Detail Berita
“Kartini Masa Kini: Saat Ananda Solehah Memimpin, Menyalakan Cahaya Ilmu dan Perjuangan”
Bertindak sebagai pembina upacara, Ustadzah Erna Yuliani, S.Pd.Gr., selaku Wali Kelas 4 memberikan amanat yang sarat makna dan inspirasi. Kegiatan diawali dengan sapaan hangat kepada seluruh peserta upacara, dilanjutkan dengan apresiasi kepada para petugas yang telah menjalankan tugas dengan penuh keberanian dan rasa percaya diri. Suasana upacara pun berlangsung tertib, penuh semangat, dan menggugah kesadaran akan pentingnya perjuangan dan pendidikan.
Dalam amanatnya, pembina mengajak ananda untuk merenungkan makna Hari Kartini. Beliau memulai dengan pertanyaan sederhana namun bermakna: “Apa yang berbeda hari ini?” hingga menggugah rasa ingin tahu peserta tentang sosok Raden Ajeng Kartini. Dijelaskan bahwa di masa lalu, perempuan memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan. Namun berkat perjuangan Kartini, perempuan kini memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.
Semangat perjuangan tersebut sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah jalan kemuliaan, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Pendidikan bukan sekadar hak, tetapi juga kunci untuk membuka masa depan yang lebih baik.
Ustadzah Erna juga menegaskan semboyan terkenal Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang mengandung makna bahwa setiap kesulitan pasti diiringi kemudahan. Hal ini selaras dengan firman Allah:
Dari sosok Kartini, terdapat tiga nilai utama yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta didik:
Pertama, memiliki semangat belajar yang tinggi. Di tengah keterbatasan zaman dahulu—tanpa listrik, buku yang minim, dan akses pendidikan yang terbatas—Kartini tetap gigih membaca dan belajar. Ini menjadi pengingat bahwa di era modern ini, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Ilmu harus dikejar dengan kesungguhan.
Kedua, berani bermimpi setinggi langit. Setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, berhak memiliki cita-cita besar. Tidak ada batasan untuk bermimpi selama disertai usaha dan doa. Generasi hari ini adalah pemimpin masa depan yang harus dipersiapkan dengan visi yang kuat.
Ketiga, saling menghormati dan menghargai. Islam mengajarkan kemuliaan akhlak sebagai fondasi utama kehidupan. Laki-laki dan perempuan adalah mitra dalam membangun peradaban, saling mendukung dan menghargai peran masing-masing. Hal ini tercermin dari pelaksanaan upacara hari ini, di mana ananda perempuan mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya dengan penuh percaya diri.
Upacara ini bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan momentum untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan, kesetaraan, dan semangat menuntut ilmu dalam bingkai keislaman. Semoga semangat Kartini terus hidup dalam diri setiap ananda, menjadi generasi berilmu, berakhlak mulia, dan berkontribusi nyata bagi umat.