Detail Berita

Foto

Pintar Itu Penting, Berkarakter Lebih Penting! Upacara Senin Jadi Momentum Bangun Generasi Berakhlak

Sokaraja - Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih yang dilaksanakan pada Senin, 06 April 2026 di halaman SD IT Annida Sokaraja berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat kebangsaan. Kegiatan rutin setiap hari Senin ini tidak hanya menjadi sarana menumbuhkan rasa cinta tanah air, tetapi juga menjadi momentum penting dalam membentuk karakter ananda sejak dini.

Bertindak sebagai pembina upacara, Ustadzah Widi Astuti, S.Pd.Gr., selaku wali kelas 3, membuka kegiatan dengan sapaan hangat dan penuh perhatian kepada seluruh peserta upacara. Suasana menjadi lebih hidup ketika beliau menyapa dan menanyakan kabar ananda, membangun kedekatan sekaligus energi positif sejak awal kegiatan.

Dalam kesempatan tersebut, pembina upacara juga memberikan apresiasi kepada petugas upacara yang telah menjalankan tugas dengan baik, penuh keberanian, dan percaya diri. Hal ini menjadi bentuk penghargaan sekaligus motivasi bagi seluruh ananda untuk terus berkembang dan berani tampil.

Upacara berlangsung tertib dan penuh khidmat, mencerminkan kedisiplinan serta kesiapan ananda dalam mengikuti kegiatan sekolah dengan penuh tanggung jawab.

Memasuki amanat upacara, Ustadzah Widi menyampaikan pesan yang kuat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Pintar itu penting, tetapi berkarakter jauh lebih penting.” Pesan ini disampaikan dengan gaya interaktif, mengajak ananda untuk berpikir dan merenung bersama.

Beliau mengawali dengan pertanyaan sederhana namun bermakna, “Siapa yang hari ini berangkat sekolah masih merasa malas?” Pertanyaan ini mengundang kejujuran sekaligus kesadaran bahwa semangat belajar harus terus dijaga, meskipun setelah hari libur.

Selanjutnya, ananda diajak untuk memahami kembali tujuan utama bersekolah. Apakah hanya untuk bermain, bersosialisasi, atau sekadar berkumpul? Lebih dari itu, sekolah adalah tempat untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Orang tua menitipkan harapan besar agar ananda menjadi generasi yang cerdas dan berilmu.

Namun, kecerdasan saja tidak cukup. Ustadzah Widi menegaskan bahwa karakter adalah pondasi utama. Tidak ada arti kepintaran jika tidak dibarengi dengan kejujuran dan akhlak yang baik. Apa gunanya pintar jika masih suka berbohong? Ini menjadi refleksi penting bagi seluruh peserta upacara.

Dalam amanatnya, beliau juga mengajak ananda untuk melantunkan hadits tentang berkata baik. Disampaikan bahwa daripada berkata kasar, membully, atau menyakiti orang lain, lebih baik diam. Sebuah pesan sederhana, namun sangat dalam maknanya.

Tiga poin utama yang ditekankan dalam amanat tersebut menjadi bekal penting dalam kehidupan sehari-hari:

  • Pertama, Jujur. Kejujuran adalah kunci utama dalam membangun kepercayaan dan integritas diri.

  • Kedua, Berkata Baik. Gunakan lisan untuk hal-hal yang bermanfaat dan menyenangkan hati orang lain.

  • Ketiga, Menghormati Orang Tua dan Guru. Tunjukkan sikap hormat melalui budaya 5S: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun.

Masih ditemukan ananda yang bersikap cuek ketika bertemu guru atau teman. Oleh karena itu, pembina mengajak seluruh peserta untuk mulai membiasakan diri menerapkan 5S dalam kehidupan sehari-hari. Hal kecil ini jika dilakukan konsisten akan membentuk pribadi yang berharga dan mulia.

Di akhir amanat, Ustadzah Widi menegaskan bahwa ketika ananda mampu menggabungkan kecerdasan dengan karakter yang baik—jujur, berkata baik, dan menghormati sesama—maka nilai diri ananda akan meningkat, tidak hanya di mata manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.

Upacara hari ini bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi pengingat kuat bahwa pendidikan sejati adalah tentang membangun manusia seutuhnya—cerdas akal, mulia akhlak, dan kuat dalam prinsip.

Tagline:
Cerdas Otaknya, Mulia Akhlaknya, Hebat Generasinya!